Aliansi Mahasiswa Bali Gelar Treatikal ‘Prihatin’ WTO

Aksi Mahasiswa Bali Tolak WTO
Aksi Mahasiswa Bali Tolak WTO

khlorofil.com – Untuk menyampaikan wujud ‘prihatin’nya terhadap Konferensi Tingkat Mentri yang sedang berlangsung di Nusa Dua, aliansi mahasiswa bali menggelar aksi treatikal di depan kampus Unud Denpasar. Aksi tersebut diperankan oleh mahasiswa yang menggunakan topeng Presiden SBY. Dalam aksi aliansi dari BEM PM UNUD, GMNI Denpasar, LMND, PMKRI Denpasar, dan HMI Denpasar menceritakan bagaimana SBY sedang ditarik oleh Organisasi Perdagangan Internasional dan tidak mengindahkan teriakan dan jeritan rakyat Indonesia yang meminta kedaulatan rakyat dan negaranya.

WTO merupakan suatu organisasi perdagangan dunia dengan sistem perdagangan multilateral yang diatur dalam persetujuan yang berisi aturan-aturan tentang perdagangan internasional sebagai perundingan yang disetujui oleh negara-negara anggota. Tidak hanya negara maju, negara berkembang juga termasuk anggota organisasi ini. “Kini siapkah kita dengan sistem perdagangan bebas yang ditawarkan oleh beberapa perjanjian dalam WTO?” ungkap angga ketika ditemui disela-sela aksi, Kamis (5/12).

Jika ditelaah kembali, sistem Indonesia berdasarkan pancasil dan kedaulatan rakyat. Angga menilai banyak perjanjian yang merupakan hasil ratifikasi dari hasil perjanjian internasional. Kesepakatan itu tidak murni dibuat oleh negara berkembang sendiri. “Berarti sudah jelas negara-negara kita di rong-rong oleh negara maju yg menginginkan menyedot bangsa atas bangsa,” tandas Angga. “Saat ini kita masih menganggap WTO itu adalah suatu organisasi imperialisme karena bangsa yang menyedot bangsa adalah suatu hal yang tidak wajar,” lanjutnya.

Hukum dalam WTO ini melebihi kedaulatan dari negara yang berdaulat. Segala perjanjian yang disepakati di WTO ini mewajibkan untuk diikuti oleh negara-negara yang berdaulat. Hal ini dipandang Angga merupakan sebuah hal yang meninggalkan kedaulatan bangsa.

Fenomena ekonomi dunia saat ini membuat negara-negara termasuk Indonesia dituntut untuk mengikuti kecenderungan globalisasi ekonomi. Itu bertujuan menciptakan suatu kondisi liberalisasi perdagangan. Globalisaasi ekonomi dan perdagangan bebas ini berkembang melalui perdagangan internasional yang telah membawa pengaruh pada hukum dan tatanan kehidupan semua negara di dunia. “Konsep yg dilakukan oleh WTO hari ini kan belum tentu bisa berlaku di Indonesia yang mengedepankan semangat gotong royong dan kedaulatan rakyat,” imbuh Angga.

Angga menegaskan bagaimana peran mahasiswa seharusnya dalam menanggapi isu ini. Bagi mahasiswa ia rasa wajar apabila mengedepankan suatu intelektualitas dan mentalitas bahwasanya institusi kampus dan akademis sudah menjadi garda terdepan dari perjuangan bangsa ini dan menjadi pintu gerbang terakhir didalam mempertahankan kedaulatan bangsa. “Kalau kita saja sebagai mahasiswa tidak mau mengawal proses demokrasi yg ada di Indonesia bagaimana kita mempertanggungjawabkan diri sebagai maasyarakat intelektual,” pungkasnya. (SD/nna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *