Tire Garden, Mengabdi di Era Milenial Versi Tim Majagau

    Pembuatan tire garden oleh kelompok 7 peserta Agricamp, Sabtu (26/01/2019). Dok. LPM Khlorofil
    Agricamp merupakan salah satu kegiatan tahunan di Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Acara ini diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana atau yang akrab disebut BEM FP Unud. Kegiatan Agricamp 2019 bertempat di Bumi Perkemahan Pramuka Margarana, Marga, Tabanan. Tire Garden, dipilih oleh salah satu kelompok peserta agricamp sebagai kegiatan pengabdian mereka (26/1).

Tahun ini, agricamp mengusung konsep yang berbeda dari tahun sebelumnya. Peserta Agricamp diberikan kebebasan untuk membuat program pengabdian kepada masyarakat di lokasi yang telah dibagikan oleh panitia, sesuai dengan keinginan dan kesepakatan masing-masing kelompok. Tak hanya itu, agar sesuai dengan tema yang diusungnya yaitu “Ragam Aksi dalam Bakti Civitas Fakultas Pertanian Universitas Udayana” panitia juga berbaur dengan peserta dalam pelaksanaan pengabdian, yaitu ikut bekerja bersama-sama berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu kegiatan pengabdian unik yang dibuat oleh peserta adalah Tire Garden. Kegiatan ini diusung oleh kelompok 7 atau kelompok Majagau. Dilihat dari namanya, tire garden adalah kebun dengan media ban bekas. Konsep ini sesuai untuk kondisi lingkungan di perkotaan yang minim lahan terbuka dan terdapat barang-barang bekas tentunya. Berdasarkan keterangan dari Kornia selaku fasil dari kelompok 7, “tire garden dibuat oleh kelompok 7 menyesuaikan dengan kondisi desa marga yang semi perkotaan. Nantinya mereka memodifikasi konsep ini dengan tanaman upakara dengan tujuan dapat digunakan sewaktu-waktu oleh masyarakat sekitar” terangnya.

Gung Pradnya, selaku salah satu dari anggota kelompok 7 memaparkan ide awal mereka memilih kegiatan tersebut, “Awalnya kami terinspirasi dari film upin dan ipin. Dalam situasi dan kondisi seadanya, mereka memanfaatkan bahan-bahan yang ada untuk membuat kebun mereka dalam perlombaan kebun tercantik di sekolahnya,” paparnya.

Sejalan dengan hal tersebut, ketua kelompok majagau, I Kadek Redana, menjelaskan konsep dari pengabdian tire garden, “tire garden ini sebenarnya berkebun dengan media ban, namun apabila kami menggunakan ban untuk membuat kebun di banjar ini, kami rasa akan terlihat kotor. Jadi kami memodifikasinya dengan pot, apabila tanaman-tanaman ini sudah besar, nantinya pot akan diganti oleh masyarakat sekitar dengan ukuran yang lebih besar. Selanjutnya untuk tanaman, kami menggunakan tanaman berupa bunga dan dedaunan yang sekiranya akan membantu sarana prasarana upakara di banjar ini” jelasnya. (dev,rah/khlorofil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *