Sariwangi Dinyatakan Pailit, Apa Kabar Teh di Indonesia?

    Sumber gambar: www.mahadaily.com

    Bangkrutnya PT Sariwangi Agricultural Estate Agency dan PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung akibat terjerat hutang Rp 1,5 triliun ke sejumlah kreditur memunculkan berbagai pertanyaan mengenai nasib produk teh yang sudah ada sejak lama ini.

Sejak resmi dinyatakan bangkrut (pailit) oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada Rabu, 17 Oktober 2018, PT Sariwangi Agricultural Estate Agency dan PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung menjadi buah bibir bagi masyarakat luas. Mulai dari alasan dibalik kebangkrutan kedua perusahaan tersebut hingga kelanjutan nasib produk teh ini tak luput dari pembicaraan. Sariwangi telah dikenal oleh masyarakat sebagai pelopor revolusional teh kemasan. Tak sedikit simpati yang mengalir bagi kedua perusahaan tersebut. Akan tetapi, berhembusnya kabar tersebut menyadarkan masyarakat bagaimana sebenarnya kondisi yang tengah dialami komoditi teh di Indonesia. Benarkah PT Sariwangi mengalami kebangkrutan diakibatkan oleh turunnya produksi teh dalam negeri?

Produksi Teh yang Menurun

Menurut data yang dikutip dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), produksi komoditi teh di Indonesia mengalami penurunan sejak tahun 2014. Hal ini mengakibatkan posisi Indonesia sebagai produsen teh dunia turun peringkat menjadi peringkat ke-10 (2017). Sedangkan peringkat tiga utama berturut-turut ditempati oleh China, Srilanka, dan Kenya.

Penyebab turunnya produksi teh di Indonesia disebabkan oleh laju konversi kebun teh yang mencapai 3000 hektar/tahun baik oleh perkebunan besar maupun perkebunan rakyat (pada tahun 2015). Lahan yang digunakan untuk produksi teh digunakan untuk memproduksi komoditi lainnya yang dianggap lebih menguntungkan seperti perkebunan kelapa sawit, sayuran, dan lainnya. Disamping itu, asumsi yang menyimpulkan komoditi teh dinilai kurang ekonomis diperkuat dengan rendahnya harga jual teh ditingkat petani yaitu di kisaran Rp 2.000,00 per kilogram.

Hal lain yang turut melesukan produksi komoditi teh di Indonesia yakni masih terjadi ketimpangan dalam menggunakan teknologi untuk produksi teh. Sebagian besar teh di Indonesia yang diekspor merupakan hasil dari perkebunan besar baik milik negara maupun swasta. Sementara teh yang berasal dari petani kecil lebih berorientasi pada pasar domestik dengan didukung teknologi produksi yang sederhana sehingga kualitasnya tidak sebaik teh produksi perkebunan besar.

Awal Kebangkrutan Perusahaan

Dikutip dari Kompas.com, PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA) berdiri sejak tahun 1962 merupakan perusahaan yang awalnya bergerak dibidang penjualan (trading) teh. Akan tetapi, seiring dengan semakin berkembangnya perusahaan, SAEA pun kemudian merambat menjadi produsen teh dengan tetap menjalankan kegiatan penjualannya.

Inovasi yang terus dikeluarkan demi menembus pasaran, menarik minat salah satu perusahaan besar yakni Unilever untuk melakukan kerjasama. Puncaknya, ketika Unilever mengakuisisi PT Sariwangi Agricultural Estate Agency pada tahun 1988. Akuisisi yang dilakukan dalam bentuk nama merek dagang. PT Sariwangi Agricultural Estate Agency, tetap bergerak dalam bidang produksi, pengemasan, juga penjualan setelah terjalinnya kerjasama tersebut.

Akan tetapi situasi turunnya produksi teh pada tahun 2014, membuat PT Sariwangi Agricultural Estate Agency mencari cara baru dalam berinovasi untuk tetap bertahan dalam menghadapi situasi runyam tersebut. Dengan mengajak PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung bekerjasama dalam hal peningkatan produksi, sejumlah dana investasi dikeluarkan. Investasi dilakukan untuk mengembangkan sistem drainase.

Sayangnya, investasi tersebut mengalami kegagalan sehingga perusahaan terjerat hutang Rp 1,5 triliun ke sejumlah kreditur. Puncaknya, ketika salah satu kreditur yakni PT Bank ICBC Indonesia mengajukan permohonan pembatalan homologasi yang dikabulkan Majelis Hakim Pengadian Niaga Jakarta Pusat dan menyatakan bahwa kedua perusahaan tersebut pailit.

Nasib komoditi Teh Saat Ini

Kebangkrutan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA), setidaknya menyadarkan masyarakat mengenai situasi produksi teh nasional. Kekhawatiran boleh jadi berkurang. Akan tetapi perlu adanya perhatian, terutama dari berbagai pihak terkait dalam membawa kembali kejayaan komoditi teh di Indonesia.

Meskipun mengalami penurunan akibat luas lahan produksi yang semakin berkurang, jumlah produksi teh di Indonesia relatif stabil yang mengindikasikan produksi teh di kebun yang tersisa lebih produktif. Terlebih, dari hasil pengamatan terakhir mengenai kondisi produksi teh di Indonesia yang mengalami peningkatan memberikan secercah harapan.

Dikutip dari Kontan.co.id pada tanggal 19 Oktober 2018, Ketua Eksekutif Dewan Teh Indonesia (DTI) Suharyo Husen memperkirakan, produksi teh hingga akhir 2018 masih hampir sama dengan tahun 2017 yakni 130.000 ton. Adapun kenaikan produksi teh diprediksi tidak sampai 10%. “Produksi kira-kira hampir sama. Kalaupun ada peningkatan, paling di bawah 10%, 2% sampai 3% lah,” ujarnya.

Terjadinya peningkatan produksi walaupun tipis tak lepas dari berbagai upaya pihak terkait yang peduli dengan keberlanjutan produksi teh di Indonesia. Revitalisasi teh yang dilakukan sejak tahun 2014 dengan adanya Gerakan Penyelamatan Agribisnis Teh Nasional (GPATN), mulai menunjukkan hasil. Selain itu langkah lain yang dapat diupayakan oleh pemerintah yakni peningkatan insentif bagi petani teh untuk merangsang peningkatan produksi yang lebih baik lagi. Dukungan dan peran dari berbagai pihak terkait, merupakan faktor kunci bagi keberlangsungan produksi teh nasional.(hal/khlorofil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *