Putu Edi Swastawan: Tidak Akan Tidur Di Jalan

(doc. istimewa)

Putu Edi Swastawan merupakan mahasiswa aktif Fakultas Pertanian Universitas Udayana tahun 2014. Keaktifannya dalam berorganisasi di BEM FP Unud tidak menghalanginya untuk dapat menorehkan prestasi terutama pada bidang akademik. Hal tersebut terlihat dari keberhasilannya mengharumkan nama almamater dalam berbagai ajang perlombaan karya tulis ilmiah. Pada bulan Mei lalu, Edi bersama tim Udayana B yang juga terdiri atas Kadek Yardi Mahardika (21) dan Putu Agi Pratama (21) berhasil mendapatkan juara Harapan 1 pada ajang lomba Innovation Contest (ICON) 2017 FE UNY. Selama ini keikutsertaannya pada ajang lomba karya tulis tidak terlepas dari peran dan dukungan seniornya.

“Kalau pertama (pada ICON 2016), itu saya dapatkan dari senior saya di BEM, ada Kak Ema (Ni Kadek Ema Sustiadewi, red), Kak Gusde (Ida Bagus Made Wirawan, red) dan Kak Mawan (Kadek Darmawan). Karena biasanya, kalau info lomba seperti itu mereka sudah pernah ikut lomba yang sebelumnya. Mereka pasti punya grup alumni. Di grup alumni itu pasti men-share ketika ada info-info,” paparnya.

Ketua BEM FP Unud itu juga menceritakan ketika dirinya telah mengikuti perlombaan ICON dan tergabung dalam grup alumni peserta lomba tersebut. Ternyata ia merasakan apa yang seniornya itu rasakan. Di grup alumni tersebut ia mendapat banyak informasi lomba dalam kancah nasional. Edi pun merencanakan untuk membuat info lomba seperti itu. “Kebetulan sekarang di BEM merencanakan, mudah-mudahan bisa terealisasi untuk membuat info lomba itu,” harapnya.

Peraih juara 3 lomba Agroecotechnology Sientific Eunthusiast Competition (ASEC) 2016 ini juga membagi pengalamannya mengenai persiapan pada ICON 2016 itu. Menurutnya peran dari teman-teman serta dosen pembimbing dalam memberikan dukungan dan dorongan juga membantunya untuk mempersiapkan tim dalam mengikuti ajang ICON 2016 di UNY. “Persiapan saya dari latihan presentasi itu hampir sekitar lima kali. Pertama dengan tim intern, yang kedua sama teman-teman kelas, yang ketiga sama anak-anak BEM, dan dua kali sama pembimbing, Pak Gede (Dr. I Gede Setiawan Adi Putra, SP., M. Si, red). Kebetulan waktu itu Pak Gede benar-benar men-support kami,” tuturnya.

Lomba ICON memberikan kesan tersendiri bagi pria kelahiran Bangli ini. Selain mendapatkan lebih banyak relasi dan pengalaman, ia juga merasa ada perubahan pada dirinya. Sekarang dia sudah mendapatkan relasi dari alumni peserta lomba ICON. Edi memastikan bahwa dirinya ‘tidak akan tidur dijalan’, karena alumni ICON dari berbagai wilayah di Indonesia. Terbukti ketika dia mengikuti lomba Pusat Riset dan Kajian Ilmiah Mahasiswa (PRISMA) di UB, alumni ICON juga menghampirinya ke hotel. Bahkan saat itu dia ditawari magang di Malang oleh salah satu alumni ICON.

Mahasiswa semester 7 ini berharap akan ada generasi penerus dalam lomba ICON. Menurutnya apapun hasilnya kalau tidak ada generasi penerus itu percuma. Sekarang Edi memiliki rasa tanggungjawab untuk melahirkan generasi penerus yang ikut terjun juga ke kancah Nasional. Ia juga berharap angkatan 2016 dan 2017 nanti tidak kalah dan lebih banyak yang mau ikut terjun ke kancah nasional untuk mengharumkan nama kampus coklat dan universitas.

Selama ini, pria kelahiran 1996 ini juga mendapatkan dorongan dari keluarganya. Ayah Edi selalu menanamkan prinsip: ketika orang lain bisa apa alasan kita untuk tidak bisa. Prinsip itu sampai sekarang tetap dia bawa, sehingga dia yang dulunya di-branding “brandal” merasa termotivasi untuk membuktikan bahwa dia juga bisa. “Sebenarnya kalau bahasa Balinya itu saya jengah. Sering saya katakan, saya jengah sekali ketika dikatakan ini dikatakan itu. Latarbelakang saya memang cenderung ke brandal. Ketika di branding seperti ini, saya juga ingin membuktikan bahwa saya juga bisa,” pungkasnya. (NTP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *