Masa Depan Pertanian Indonesia, Seperti Apa?

    Pemupukan dengan teknologi drone. Sumber foto: thejakartapost

    Inflasi pangan dalam kurun waktu empat tahun terakhir mengalami penurunan yang signifikan. Salah satu faktor yang menjadi pendorong penurunan tingkat inflasi ini ialah meningkatnya pasokan produksi pangan dalam negeri. Saat ini tengah gencar dilakukan beberapa upaya yang dapat meningkatkan pasokan produksi pangan. Di sisi lain, memasuki era revolusi industri 4.0., terdapat pengembangan sektor pertanian dengan memanfaatkan teknologi yang dinamakan smart farming.

Akhir tahun 2018, tingkat inflasi pangan yang diakui oleh Kementerian Pertanian (Kementan), mengalami penurunan. Sejak tahun 2014, tingkat inflasi pangan yang mencapai angka 10,56 persen berhasil diturunkan hingga 1,26 persen. Tak hanya itu, Kementan juga mengungkapkan bahwa tingkat ekspor komoditi pertanian mengalami peningkatan sebesar 24-29 persen.

Tentu hal tersebut menjadi suatu prestasi yang membanggakan bagi Indonesia. Inflasi pangan atau biasa disebut dengan volatile foods (harga pangan yang bergejolak, red) turut menjadi penyumbang bagi terjadinya inflasi dalam negeri.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan turunnya inflasi pangan ialah pasokan produksi pangan dalam negeri yang memadai. Terkait dengan hal tersebut, tentu diperlukan beragam upaya untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan pasokan produksi pangan.

Untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut, penggunaan teknologi yang tepat guna merupakan salah satu caranya. Pemanfaatan teknologi seperti pada pertanian hidroponik dilakukan untuk meningkatkan produksi baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Tidak hanya untuk kegiatan produksi saja, pemanfaatan teknologi juga digunakan dalam pemasaran produk seperti TaniHub, hingga aplikasi pemantau harga pasar yang bertujuan untuk memudahkan petani dalam memasarkan produknya.

Memasuki era revolusi industri ke-4, sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mengalami dampak perkembangannya. Revolusi Industri 4.0. merupakan bentuk dari adanya revolusi dalam bidang industri yang mengkolaborasikan antara teknologi dengan jaringan internet. Di Indonesia, revolusi industri ke-4 dalam bidang pertanian telah diterapkan yakni Smart Farming 4.0 di desa Battal, Kecamatan Panji, kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Dilansir dari repubilka.co.id, Smart Farming 4.0., merupakan metode pertanian cerdas berbasis teknologi Agri drone sprayer (drone penyemprot pestisida dan pupuk cair), Drone surveillance (drone untuk pemetaan lahan) serta Soil and weather sensor (sensor tanah dan cuaca). Metode ini dinilai akan memudahkan kerja petani sehingga dapat bekerja dengan lebih efisien.

Smart Farming 4.0. merupakan bentuk kerjasama antara PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB) dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) melalui Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah (Ditjen PDT) serta Pemerintah Daerah Kabupaten Situbondo yang dimulai pada 24 September 2018. Kedepannya, metode tersebut diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan pertanian yang umumnya dialami oleh petani.

Walaupun masih terjadi kemungkinan munculnya teknologi baru yang dapat meningkatkan produksi produk pertanian, inovasi tersebut perlu diiringi dengan kesiapan petani dalam mengadopsi teknologi. Selain itu diperlukan upaya pemerataan dalam penyebaran informasi dengan memanfaatkan teknologi sehingga permasalahan pertanian dapat teratasi dan pasokan produksi pangan dapat memenuhi kebutuhan rakyat dalam dan luar negeri. (hal/khloro).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *