Jadi Korti Enak tapi Enek

    Ilustrasi menjadi seorang korti. Sumber Gambar: google.com

    Kordinator Tingkat atau lebih akrab dikenal dengan sebutan Korti adalah sebutan yang diberikan kepada seseorang yang menjadi perwakilan mahasiswa dalam suatu mata kuliah.

Kata Korti sering kali diplesetkan menjadi Korban Timpal atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Korban Teman. Hal ini dikarenakan orang yang ditugaskan sebagai korti biasanya ditunjuk oleh teman teman mahasiswa lainya, atau ditunjuk dosen dan hanya sebagaian kecil yang bersedia untuk mengajukan diri secara langsung.

Tugas menjadi seorang mahasiswa saja sudah cukup berat, karena harus bisa mengatur diri sendiri. Seperti mengatur waktu untuk belajar, membuat tugas, berorganisasi atau bahkan ada yang bekerja dengan sistem part time. Jika ditambah dengan tugas menjadi korti, tentu saja orang yang terpilih memiliki kemampuan lebih. Sebab tidak hanya pandai mengatur diri, tapi juga mampu mengatur teman-temanya.

Adapun tugas dari seorang korti adalah sebagai jembatan komunikasi antara mahasiswa dan dosen. Disamping itu korti juga sering kali membantu dosen untuk mengatur jadwal kuliah dan jadwal praktikum agar sesuai dengan waktu mahasiswa dan dosen ketika terjadi pergantian jadwal kuliah. Mencari ruangan, mengurus absen, mengumpulkan tugas dari mahasiswa lain dan juga sebagai perwakilan dari mahasiswa untuk menampung semua pertanyaan tentang tugas yang tidak dimengerti yang akan ditanyakan pada dosen yang bersangkutan.

Salah satu mahasiswa yang merasakan pengalaman menjadi korti, yakni Siska Mailasari yang merupakan seorang mahasiswa Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Siska menuturkan bahwa awalnya dia menjadi korti karena kemauan sendiri. “Mau jadi korti, sebab sebelumnya sama sekali belum pernah jadi korti. Semester V pengin ngerasain jadi korti”, katanya.

Menjadi korti menurut Siska memberikan keuntungan. Selain rasa bangga menjadi perwakilan dari teman-teman sesama mahasiswa, juga dapat menjadi lebih dekat dengan dosen. Hal ini dikarenakan seringnya melakukan komunikasi dengan dosen terkait kegiatan belajar dan mengajar. “Tapi yang bikin ngenekin karena kadang suka dimanfaatin sama temen, pusing nyari ruang ganti dan jam kuliah kalau dosen nggak bisa hadir, dan juga kalau ada yang salah pasti korti lagi, korti lagi”, tutupnya. (utu/khlorofil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *