MENGENAL SPORA ENDOMIKORIZA SEBAGAI PUPUK HAYATI PENGGANTI PUPUK ANORGANIK

    Spora Endomikoriza. Sumber gambar: ansdoc.com
    Fungi mikoriza arbuskular (FMA) merupakan organisme yang termasuk golongan jamur yang menggambarkan hubungan simbiosis mutualisme antara fungi dengan akar tanaman menurut Brundrett et al. tahun 1996.

Penggunaan pupuk anorganik dalam jangka panjang dapat merusak struktur dan tekstur tanah serta matinya mikroorganisme yang ada di dalam tanah. Jika hal tersebut terjadi, maka produktivitas tanaman akan menurun. Menggunakan pupuk hayati dapat menjadi salah satu solusi. Pupuk hayati menggunakan mikroorganisme hidup yang diberikan ke dalam tanah sebagai inokulan untuk membantu tanaman memfasilitasi atau menyediakan unsur hara tertentu bagi tanaman. Salah satu sumber pupuk hayati adalah mikoriza arbuskular (FMA).

Mikoriza adalah bentuk simbiosis antara cendawan (fungi) dengan tumbuhan tingkat tinggi (tumbuhan berpembuluh, Tracheophyta), khususnya pada sistem perakaran. Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) tergolong dalam kelompok khusus dari populasi mikoriza yang sangat banyak mengkolonisasi rizosfer, yaitu di dalam akar, permukaan akar, dan di daerah sekitar akar. Hifa eksternal yang berhubungan dengan tanah dan struktur infeksi seperti arbuskula di dalam akar menjamin adanya perluasan penyerapan unsur-unsur hara dari tanah dan peningkatan transfer hara (khususnya fosfor) ke tumbuhan, sedangkan cendawan memperoleh karbon organik dari tumbuhan inangnya.

Menurut Sundari et al., tahun 2011 FMA dapat berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman. Pemanfaatan FMA sebagai pupuk hayati dapat digunakan sebagai alternatif untuk menghindari kerusakan tanah akibat penggunaan pupuk anorganik. FMA berpotensi besar sebagai pupuk hayati karena merupakan salah satu mikroorganisme yang memiliki peranan yang sangat penting bagi tanaman. FMA dapat memfasilitasi penyerapan hara dalam tanah sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, sebagai penghalang biologis terhadap infeksi patogen akar, meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman dan meningkatkan hormon pemacu tumbuh menurut Prihastuti tahun 2007.

Menurut Hartoyo et al., tahun 2011 pemanfaatan FMA sebagai pupuk hayati akhir-akhir ini mulai mendapat perhatian, hal ini tidak saja karena kemampuannya meningkatkan penyerapan air dan unsur hara dari dalam tanah, menghasilkan hormon pemacu tumbuh serta sebagai barier terhadap serangan patogen tular tanah, tetapi di sisi lain FMA juga berperan dalam menjaga kelestarian tanah baik secara fisik, kimia maupun biologi sehingga keseimbangan biologis selalu terjaga. (cpd/khlorofil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *