Daku, Peranakan Anak Pendosa

Seperti menyongsong kelahiran, daku menggelitik

Di duduk perut Emak

Atau pun daku terlampaui

Percaya bahwa kelak atau jemah daku benar-benar

Menjadi anak Adam

Tetapi hidup takkan

Pernah merilis karcis cuma-cuma untukku

Oleh sebab itu daku meneguk saja air ketuban indukku

Bila Tuhan sungguh-sungguh berharap daku hidup

Daku konstan bisa bernegosiasi karcis kententeraman

Yang tak sakral pada-Nya

 

Daku mengenyam sesak di hidung kecil

Menggerenyang di mana posisi lubang kelahiran, farji

Daku tidak mengantongi apa-apa, pun senoktah mentari

Daku menggegarkan batangku agar emak mengetahui

Bahwa keturunannya terjepit

 

Daku menjadi buah hati pendosa memerdekakan

Orang tuaku dengan pujian yang berlainan

Para eksekutor aborsi ini semua bukan salah Tuhan

Emak, Bapak, atau malaikat yang memungutku dengan secepat kilat

Salahkanlah aku memupuskan diri di lubuk

Peranakan emak yang sempit, maafkanlah daku

 

Aku akan menjadi janin yang tak utuh

(maz/khlorofil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *