Tyto alba Pengendali Hama Tikus di Subak Genggangan

    Sangkar Tyto alba yang dipasang di areal persawahan Subak Genggangan, Banjar Pagi. Doc.Pribadi
    Tahun 2015 terjadi penyerangan hama tikus dalam skala besar. Tidak hanya di Subak Genggangan, Banjar Pagi subak-subak sekitarnya juga terserang. Subak yang terletak di Desa Senganan, Kabupaten Tabanan ini menglami kerusakan produktifitas padi hingga 80%. Beranjak dari permasalahan tersebut Made Jonita yang akrab dipangil Purna bersama teman-temannya berkumpul dan berdiskusi secara intensif membahas bagaimana menemukan solusi dari serangan hama tikus. Kemudian mereka mendapatkan informasi bahwasannya di Demak juga mengalami hal yang serupa, namun sudah menemukan penyelesaiannya yakni dengan memanfaatkan burung hantu sebagai pengendali hama tikus. Burung hantu merupakan hewan nokturnal (beraktifitas dan mencari makan di malam hari). Begitu pun tikus, hewan pengerat itu mencari makan berupa bulir padi di malam hari.

Purna (03/11) menceritakan, bersama teman-temannya mereka berswadaya mandiri untuk melakukan kunjungan studi ke Demak. Setelah kunjungan studi tantangan yang dihadapi adalah mencari burung hantu. Akhirnya mereka mendapatkan anakan burung hantu jenis Tyto alba di Kantor Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan yang kebetulan bersarang liar disana.

    Made Jonita di Kediamannya, Banjar Pagi, Desa Senganan, Kabupaten Tabanan, Bali (03/11/2018). Doc. Pribadi

Mahasiswa Lulusan Sosiologi Budaya 1993 Universitas Udayana itu menjelaskan, selama 6 bulan penangkaran hanya diberikan makan berupa tikus, “tujuannya supaya ketika dilepas liarkan hanya menjadi predator bagi tikus” jelasnya. Burung hantu yang dilepaskan diberikan pemasangan rumah burung (sangkar) di area persawahan. Pelepasan pertama di akhir tahun 2015 sebanyak delapan ekor. Saat ini, jumlah Tyto alba yang berada di subak Genggangan tidak diketahui pasti, karena Tyto alba tersebut sudah hidup secara liar. Tyto alba yang sudah dilepaskan mencari makan sendiri, “dia (red: Tyto alba) kan nyari’ makan sendiri di alam liar”, terang pria berambut gondrong itu. Warga hanya menjaga supaya Tyto alba tetap tinggal disana dengan cara tidak merusak alam.

Kelian Subak Genggangan Wayan Subadi atau yang dikenal dengan nama Pak Sindhu mengungkapkan bahwa dukungan dan partisipasi masyarakat juga positif. Terdapat kesepakatan tidak boleh memburu burung hantu meskipun dilepas liar, menjaga kelestarian alam khususnya pepohonan, dan tidak boleh meracun tikus. “Tidak boleh masang racun tikus, ini sudah kesepakatan subak” terangnya.

TUWUT merupakan nama kelompok yang mengembangkan teknologi ini, beranggotakan 14 orang. Empat orang diantaranya berasal dari luar desa. Peran dalam kelompok ini dibagi-bagi, ada yang bertindak sebagai penyokong/pencari dana, mencari pakan dan lainnya.

Berbulan-bulan di awal respon masyarakat acuh. Usaha sosialisasi tentang peran burung hantu sebagai pengendali hama tikus secara person to person digalakkan, termasuk saat rapat subak. Namun, tetap tidak ada respon / dukungan yang terlihat. Suatu malam setelah enam bulan berlalu, tiga warga setempat masing-masing menyaksikan bagaimana kerja burung hantu saat memangsa tikus di kediamannya. Ada warga yang menyaksikan di sekitar kandang itik, ada juga yang menyaksikan di halaman rumah. Keesokan harinya warga ramai memperbincangkan topik burung hantu. Setelah kejadian itu, warga mulai menunjukkan kepeduliaannya terhadap usaha ini. Jika mendapatkan tikus di rumah mereka, mereka memberikannya kepada Purna sebagai pakan burung hantu.

Wayan Suparni menyatakan setelah enam bulan pelepasan Tyto alba, efeknya mulai terlihat. Hasil panen mulai dirasakan membaik, sekitar 80% padi terselamatkan “bahwa serangan tikus sudah menurun” papar anggota subak Genggangan ini.

    Tyto alba di Tempat Penangkaran. Doc. Pribadi

Perjuangan tidak sampai sana. Di tempat perawatan, burung yang kecil atau sakit harus dicarikan pakan. Jumlah tikus yang disediakan juga harus lebih banyak dari jumlah burung yang ditangkar. Misalkan ada 10 burung hantu, memerlukan 13 ekor tikus setiap harinya. Karena di persawahan jumlah populasi tikus sudah terkendali, maka tikus dicari di kandang-kandang ayam.

Agustus 2018, Subak Soka yang terletak di sekitar Subak Genggangan juga melakukan pelepasan 15 ekor Tyto alba dan memasangan empat sangkar. Pelepasan itu dihadiri oleh perangkat Desa Jatiluwih yang merupakan desa tetangga. Melihat terobosan teknologi itu, kemudian mereka mengusulakan untuk menerapkan di area persawahan desa yang menjadi warisan budaya dunia tersebut.

Purna menambahkan, “saya kira habitat Tyto alba dari gunung sampai laut, karena dipinggir pantai juga dia mampu hidup artinya dia cocok dengan segala kondisi.” Jelas pria kelahiran 15 Juni 1974 itu. Dalam jangka panjang, akan dikembangkan perluasan penggunaan Tyto alba. hingga ke desa-desa di bagian bawah sampai ke pantai.

Usaha lain yang dilakukan untuk meningkatkan minat masyarakat sekitar terhadap Tyto alba adalah dengan membuat beberapa kerajinan tangan dari tanah liat berbentuk burung hantu. “Di sepanjang jalan Banjar Pagi tepatnya di depan rumah, juga dipasang kerajinan berupa lampu jalan yang berbentuk burung hantu. Ketika malam hari, lampu-lampu ini akan menyala” tutur bapak tiga anak ini.

Purna menyampaikan pesan kepada masyarakat khususnya petani untuk bersama-sama menjaga dan mengembangkan Tyto alba. “Mari menjaga dan mengembangkan burung Tyto alba karena mengendalikan tikus tidak hanya untuk pertanian. Tikus itu yang paling berbahaya, bisa merusak file-file penting, seperti arsip kan dirusak termasuk kabel” terangnya.(red/khlorofil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *