DIGITALISASI KORAN SEBAGAI BAGIAN DARI SEJARAH

    Proses Digitalisasi Koran. Doc.Pribadi

    Koran banyak melihat sejarah, yang dulu adalah sejarah untuk sekarang dan sekarang adalah sejarah untuk masa yang akan datang. Oleh karena pemahaman tersebut Proses Digitalisasi Koran telah menjadi program kerja dari Museum Pers Nasional di Surakarta, Jawa Tengah.

Kota Surakarta, Jawa Tengah merupakan kota yang terkenal dengan sejarah kerajaan. Yakni dengan berdirinya Keraton Kesunanan Surakarta. Disisi lain kota ini juga menyimpan cerita tentang sejarah pers. Ditandai dengan adanya Monumen Pers Nasional yang beralamat di Jl. Gajah mada, No. 76, Timuran, Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Pada awalnya gedung Monumen Pers Nasional ini bernama gedung Societeit Sasana Soeka, yang dirancang oleh Mas Abu Kasan Atmodirono pada tahun 1933. Gedung ini menjadi saksi lahirnya radio rubik pertama yang dioprasikan oleh pribumi Indonesia yakni Solosche Radio Vereeniging dan tiga belas tahun kemudian tepatnya pada bulan Februari 1946. Di gedung ini berhasil terbentuknya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Monumen Pers Nasional ditetapkan pada tahun 1973 dan resmi di buka pada tanggal 9 Februari 1978. Dalam peresmianya oleh Presiden Soeharto, ia menyampaikan bahwa “Menikmati kebebasan demi kebebasan itu sendiri adalah keistimewaan yang tak mampu kita dapatkan”.

Seiring berjalannya waktu, Monumen ini dijadikan sebagai tempat wisata edukasi. Pada tahun 2014 mulai digalakkan program pengenalan museum ke sekolah-sekolah, melalui promosi dan untuk tingkat kampus diselenggarakan dialog mahasiswa. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan pentingnya sejarah kepada generasi muda, yang merupakan penerus dan penentu arah bangsa kedepanya.

Selain memiliki program pengenalan museum kepada generasi muda. Museum Pers Nasional ini juga memiliki program kerja yang salah satunya adalah melakukan digitalisasi Koran. Proses digitalisasi dilakukan setiap tiga bulan sekali. Koran-koran tersebut diperoleh dari berlangganan langsung, pengiriman media-media yang ingin agar Koran atau majalahnya di digitalisasi dan mendownload dari website yang aksesnya diberikan oleh pihak terkait. Divisi yang khusus untuk melakukan proses digitalisasi adalah divisi konservasi dan reservasi.

Telah ada sekitar 343 judul koran yang berhasil didigitalisasikan. Dengan Koran tertua yakni Sumatra Koran tahun 1872. Digitalisasi Koran ini dilakukan untuk mereka atau menyimpan data-data yang ada. Dimana Koran banyak melihat sejarah, yang dulu adalah sejarah untuk sekarang dan sekarang adalah sejarah untuk masa yang akan datang. (utu/khlorofil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *