Bahayakah Tanaman Transgenik?

    Kebutuhan pangan senantiasa melonjak tinggi seiring pertumbuhan penduduk dunia. Badan Pangan dunia, FAO, memprediksi di tahun 2050 dunia mengalami krisis pangan akibat konversi lahan produksi untuk kebutuhan seperti tempat tinggal. Mengatasi hal tersebut, para ilmuwan melahirkan suatu metode Genetically Modified Organism (GMO’S) atau organisme transgenic sebagai usaha yang dapat dilakukan dengan melibatkan ilmu pengetahuan sains dan teknologi.

Genetically Modified Organism (GMO’S) atau organisme transgenik merupakan organisme yang telah mengalami modifikasi bahan genetik. Tanaman transgenik hasil rekayasa genetika ini dipercaya mempunyai sifat-sifat unggul diantaranya memiliki produktivitas yang lebih tinggi, tahan terhadap hama, toleran terhadap herbisida, dan mengandung kualitas nutrisi yang lebih baik.

Tanaman Transgenik : Solusi atau Polusi?

Teknologi tanaman transgenik merupakan jawaban dari benang merah permasalahan kebutuhan pangan yang semakin meningkat dan keterbatasan lahan produksi. Produksi dalam waktu yang singkat dan jumlah yang banyak mampu memenuhi kebutuhan pangan tidak hanya dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Tak heran, di beberapa negara teknologi ini telah diterapkan. Terkait dengan penerapannya di Indonesia, Dosen Bioteknologi Pertanian, Fakutas Pertanian, Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. I Gede Putu Wirawan, M.Sc mengungkapkan hal tersebut mungkin saja untuk diterapkan terlebih dalam mendukung swasembada padi, jagung, dan kedelai (pajale) walau masih terkendala. “Sekarang kita gunakan yang transgenik hasilnya bisa lebih tinggi mungkin suatu saat tidak melakukan import dan bisa menjadi sebuah solusi” paparnya

Meskipun sekilas terlihat menguntungkan, penerapan teknologi tersebut juga menuai kontra pada masyarakat dunia terutama ditinjau dari aspek kesehatan dan keseimbangan ekosistem. Berbagai spekulasi muncul seperti timbulnya hama penyakit yang akan semakin sulit untuk ditangani, gangguan keseimbangan ekologi, hingga terbentuknya resistensi terhadap antibiotik. Dampak yang semakin meresahkan masyarakat dunia yakni munculnya senyawa baru yang berbahaya bagi konsumen. Terkait dengan asumsi tersebut, Prof. Wirawan membantah dan menegaskan bahwa tanaman transgenik tidak membahayakan bagi konsumen. “Masing-masing orang memiliki respon terhadap makanan berbeda-beda. Bisa jadi hanya orang tertentu yang mengalaminya namun orang lain tidak,” ujarnya.

Ia juga menegaskan timbulnya pro dan kontra akibat ketidaktahuan masyarakat terkait mekanisme pembuatan tanaman transgenik. Mekanisme pembuatan tanaman transgenik dilakukan dengan memasukan gen baru, berintegrasi pada kromosom selanjutnya dilakukan mekanisme gen dan sel biasa pada tanaman tersebut. “Karena masyarakat tidak tahu mekanisme pembuatan tanaman transgenik. Bahkan orang memahami masukan gen baru nanti lepas gen nya itu masuk ke tubuh dan jadi memutasi kita. Mereka belum paham pada proses pencernaan tubuh. Kalau begitu kita makan kangkung mungkinkah gen penghasil khlorofil masuk ke tubuh kita lalu tubuh menjadi hijau? Kan enggak seperti itu,” paparnya.

Survei : Menelisik Dua Sisi Tanaman Transgenik

Persoalan mengenai tanaman transgenik masih menimbulkan polemik di masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan adanya jajak pendapat (survei, red) yang dilakukan pada tanggal 11 – 12 Oktober 2018 dengan populasi sampel penelitian 20 orang. Responden merupakan mahasiswa aktif Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, mulai dari angkatan 2014 hingga 2018.


Terkait dengan pernyataan tanaman transgenik mengatasi permasalahan pangan, sebesar 75 persen responden menyatakan setuju dengan hal tersebut. Salah seorang responden menuliskan alasan terkait dengan keterbatasan lahan pertanian yang semakin sempit serta populasi manusia yang semakin meningkat. Adanya tanaman transgenik akan membantu permasalahan tersebut.

Sementara responden yang kontra terhadap pernyataan diatas sebesar 25 persen menyatakan alasan mengenai kesehatan dan kualitas ekosistem. Salah satu responden mengungkapkan tentunya akan ada dampak negatif yang timbul. “Dikhawatirkan tanaman transgenik ini akan mengganggu keseimbangan ekologi. Selain itu dengan begitu banyak kelebihannya, tanaman mungkin akan resistan terhadap antibiotik dan riskan akan menjadi racun untuk makhluk hidup” tulisnya.

Pandangan responden terkait tanaman transgenik pun beragam. Sebesar 65 persen responden menyatakan sebuah inovasi, peningkatan produksi pangan, peningkatan nilai gizi suatu tanaman dan pemecah solusi dari permasalahan pertanian melalui ilmu multidisiplin sains. Sisanya, sebesar 35 persen responden menyatakan pemicu gangguan keseimbangan ekologi, terbentuknya resistensi terhadap antibiotik, dikuatirkan dapat terbentuknya senyawa racun, allergen atau terjadinya perubahan nilai gizi.


Bila teknologi pertanian dengan tanaman transgenik diterapkan di Indonesia, hal ini menimbulkan respon yang beragam. Sebesar 60 persen responden setuju sebagai upaya mengurangi impor pangan. “Lebih baik mengusahakan apa yang dapat dilakukan dengan usaha sendiri, apalagi dengan begitu, perekonomian para petani dapat ikut meningkat, daripada harus melakukan impor dengan menggunakan anggaran negara,” tulis salah seorang responden.

Sementara sebesar 40 persen menyatakan tidak setuju, salah seorang responden mengungkapkan kekhawatiran akan turunnya keanekaragaman tanaman pangan di Indonesia. Disamping itu, menurutnya minat masyarakat dalam mengonsumsi keanekaragaman tanaman pangan akan menurun terutama tanaman pangan lokal asli Indonesia.(rth/khlorofil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *