Pers dan Pembangunan Pro Petani


Suasana diskusi yang di buka oleh Prof. Dr. Ir. I Wayan Windia, SU selaku dosen Pembina LPM Khlorofil. Acara berlangsung di Ruang Asistensi Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Unud, hari Minggu (23/09/18)

    Diskusi Jurnalistik LPM Khlorofil, Miinggu (23/09) bertemakan “Peran Persma dalam Mengawal Pembangunan Pro Petani” menghadirkan pembicara dari WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) dan dari AJI (Aliansi Jurnalistik Indonesia). Kegiatan ini berlangsung di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Jalan Pulau Moyo, Denpasar.

Pembicara dari AJI, Nandhyang Risadhe Astika menyampaikan bahwa pembangunan pro petani adalah yang membantu petani bukan sebaliknya. “Sejauh ini pembangunan memang banyak dilakukan tetapi tidak semua menguntungkan petani, seperti alih fungsi lahan terus berlanjut dan sangat merugikan petani”. Nandhyang menambahkan bahwa peran persma dalam mengawal pembangunan pro petani adalah dengan memposisikan diri bukan hanya sebagai penulis yang mendengar informasi dari ruangan tetapi, turun untuk mencari tahu apa yang sebenernya dirasakan oleh petani.

Sejalan dengan Nandhyang, pembicara dari WALHI berpendapat bahwa pembangunan pro petani adalah bagaimana memberi support petani, “Mendukung, khususnya petani yang bertahan selaras dengan alam dan budaya sampai sekarang. Persma menjadi partner menyuarakan keluhan petani ” jelas Made Krisna.

Krisna menekankan pembangunan pro petani berlandasakan pada aspek budaya. Menurutnya langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga eksistensi subak, menciptakan pasar alternatif bagi petani, berdiskusi dengan petani untuk mengetahui tantangan-tantangan yang dihadapi petani sehingga nantinya bisa merumuskan solusi alternatif. “Ketika petani itu telah bersinergi dengan mekanisme yang selaras alam otomatis akan bersinergi dengan kearifan dan budaya lokal itu sendiri” pungkasnya.

Dian dan Freliant sebagai peserta diskusi mengungkapkan pemahaman mereka, bahwa persma dapat mengawal pembangunan pro petani dengan ikut menggali kendala yang di alami petani, “Sebagai persma untuk mengawal pembangunan pro petani, dengan mencari kendala-kendala yang di hadapi petani serta membuat program yang bisa membantu petani nantinya” tutur Dian. Freliant menambahkan bahwa pembangunan pro petani dapat dilakukan dengan berdiskusi langsung dengan petani untuk mencari tahu kendala-kendala yang dihadapi petani. (feb/khlorofil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *