Gelar “Ngelawang Barong”, Anak Muda Tunjukkan Aksi Lestarikan Budaya

Foto menggambarkan suasana anak-anak selepas ngelawang barong. Foto di upload oleh akun Instagram @ubudhood

Ngelawang Barong adalah salah satu budaya Bali yang penari dan pemain musiknya sebagian besar merupakan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah. Ini menjadi salah satu cara untuk terus melestarikan kebudayaan negeri tercinta. Kalau bukan anak muda sebagai generasi penerus bangsa, siapa lagi yang akan melestarikan?

“Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia”.Indonesia memiliki sekitar 17.000 pulau. Bangsa ini juga memiliki kurang lebih 742 bahasa daerah, 33 pakaian adat dan ratusan tarian adat. Potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi ini seharusnya dapat mengantarkan kita sebagai warga Negara Indonesia lebih bangga dan tak luput untuk menjaga serta melestarikan budaya yang kita miliki sekarang ini.
Berbagai wilayah di Indonesia menciptakan pula budaya yang menarik. Seperti contoh, Pulau Bali yang tidak hanya menyuguhkan pariwisata eksotis tetapi juga kebudayaan yang sangat kuat. Terlebih 95% penduduk yang bermukim di Bali menganut agama Hindu. Budaya yang Pulau Bali tawarkan sangat beragam, mulai dari rumah adat, pakaian tradisional, tarian, senjata sampai makanan. Orang Bali selalu berpegang erat pada tradisi yang mereka miliki, sehingga kelestarianya dapat dipertahankan hingga saat ini.

Cara yang mereka lakukan juga beragam seiiring berjalanya waktu. Salah satunya Bali mempunyai tradisi ‘Ngelawang Barong’. Tradisi ini merupakan suatu ritual tolak bala yang dilakukan umat Hindu di Bali. Barong sendiri merupakan sebuah tarian tradisional yang ditandai dengan topeng dan kostum badan yang dapat dikenakan satu atau dua orang. Barong biasa dimainkan oleh orang dewasa yang bersifat suci untuk tradisi pada saat Manis Galungan atau Manis Kuningan.

Keunikan Ngelawang Barong sendiri terletak pada penari dan pemain musiknya yang biasanya sebagian besar merupakan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah. Jenis Barong sendiri sangat beragam, yakni Barong Ket, Barong Bangkung, Barong Landung, Barong Macan, Barong Gajah, Barong Asu, Barong Brutuk, Barong Kedingkling dan masih banyak lagi. Tetapi yang paling sering dipakai untuk Ngelawang Barong merupakan Barong Bangkung yang berwujud seperti hewan yakni babi. Umat Hindu percaya tradisi ini bertujuan untuk mengusir roh-roh jahat atau melindungi penduduk dari wabah penyakit yang diakibatkan oleh roh-roh (Bhuta Kala).

Ngelawang Barong Bangkung biasanya dilakukan oleh anak-anak dengan cara lewat dan menari di depan rumah warga. Sayangnya tidak semua kota di Bali memiliki tradisi Ngelawang Barong. Suasana tersebut dapat disaksikan di sepanjang jalan kota Tabanan, Kediri, Ngawi, Pandak dan Beraban. Uniknya, meski mereka ngelawang di sepanjang jalan raya, beberapa diantara mereka dapat membagi tugas. Ada yang memang khusus memainkan barong, alat musik dan menari tapi yang tak kalah penting adalah mereka yang kebagian tugas mengatur arus lalulintas. Jadi, meskipun mereka ngelawang di jalan raya, arus lalulintas tetap lancar.

Sebagai generasi muda, generasi penerus, dan generasi pembela bangsa, hal yang dilakukan anak-anak tersebut bisa dibilang usaha melestarikan kebudayaan Indonesia dan menjaganya dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Misalnya mengklaim budaya yang kita miliki begitu saja. Ngelawang Barong bisa menjadi hal positif yang ditularkan sehingga dampak yang didapatkan juga hal yang tentunya positif. Dengan anak-anak Ngelawang Barong mereka bisa mendapat penghasilan lebih untuk uang jajan dan menjalin keakraban sesama teman. Efek yang ditimbulkan untuk tradisi sendiri, bisa mengajarkan anak- anak menari Barong dengan baik dan benar agar kelak mereka bisa menari Barong dengan sakral sewaktu upacara adat digelar.

Mempertahankan dan menjaga budaya yang kita miliki merupakan kedua hal yang berat untuk dijalani bila kita masih berfikir apatis. Perubahan pola pikir masyarakat yang drastis seharusnya dapat menjadikan kita lebih aktif dalam mempertahankan dan menjaga kebudayaan yang sudah ada sejak dulu. Sekarang tergantung pada kita sebagai masyarakat Indonesia kedepannya akan dibawa kemana kebudayaan yang kita banggakan saat ini. (del)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *